Artikel
Indak 'ado kayu, janjang dikapiang' (tidak ada kayu, tangga pun di patah juga untuk jadi kayu bakar,red). Artinya satu tekad untuk tetap mengupayakan merealisasikan apa saja keinginan yang hendak dicapai.
Ungkapan tersebut, merupakan satu bentuk ketegasan masyarakat Minangkabau di Propinsi Sumbar guna merealisasikan keinginannya tersebut.
Pepatah ini pula mengibaratkan tingginya rasa solidaritas masyarakat Minangkabau terhadap keluarga, karib kerabat dan mertuanya,
Bagi seorang anak atau menantu (perempuan) 'Maantaan Pabukoan" atau "mengantar Pabukoan pada sang mertua di Ranah Minang, Propinsi Sumbar terus dilestarikan, satu bentuk kekuatan silaturrahmi sekaligus penghormatan sang menantu pada ibu dan bapak mertuanya.
Maantaan pabukoan, biasanya dilakukan oleh masyarakat Minangkabau pada puasa hari minggu kedua Ramadhan dan tiap tahun tradisi ini terus abadi.
Dona (28) yang juga ibu rumah tangga itu mengatakan, tradisi maantaan pabukoan itu telah dilakukannya sejak tiga tahun ia menikah dengan suaminya.
"Jika seorang menantu tidak "maantaan pabukoaan", merupakan suatu aib karena ini menunjukan tidak adanya rasa santun dan persaudaraan lagi di antara anak dan menantu," katanya.
Mirisnya, ketika masyarakat mengetahui kondisi demikian, maka sang menantu dikira sebagai menantu yang tidak beradat.
Di Minangkabau, tradisi 'maantaan pabukoan' sekaligus menjadi satu cara untuk menjaga silaturahmi di antara mereka tetap utuh dan keluarganya tetap menjadi keluarga yang saling harga menghargai dan santun.
"Bagi kami 'maantaan pabukoan' dimasak sendiri dan akan lebih baik diantar pada hari Kamis atau Minggu pada minggu kedua Ramadhan atau pertengahan Rhamadhan," katanya.
Biasanya sajian 'maantaan pabukoan' itu dibawa dengan rantang atau panci bertingkat empat, berisi macam-macam jenis masakan dan makanan-makanan tradisional yang nantinya bisa dimakan untuk berbuka dan waktu sahur oleh keluarga mertua.
"Maantaan Pabukoan", sudah mentradisi di kalangan menantu sejak nenek kami dahulu," tambahnya.
Namun sebagian menantu yang berprofesi sebagai wanita karir, justru menyediakan isi 'maantaan pabukoan' dengan makanan tradisional serba dibeli.
"Maklum..... saya kan bekerja dari pagi hingga sore, sebagai PNS tentu sibuk sekali dan waktu banyak tersita di kantor sehingga lebih memilih membeli makanan siap saji. Pada pasar Pabukoan, semuanya tersedia," kata Iis (43).
Isi rantang untuk maantaan pabukoaan adalah mulai dari gulai berbahan ikan atau daging dan telur, goreng-gorengan berbahan ikan, daging dan telur, dilengkapi dengan perkedel yakni kentang isi daging, serta kue-kue tradisional seperti lupis, onde-onde, kolak, dan lepat berbahan ubi, pulut/ketan dan pisang. *


