Saat ini, Kabupaten Solok Selatan masih membutuhkan profesi tenaga pendidikan. Minimnya jumlah guru, pada umumnya dialami oleh masyarakat di daerah terpencil. Sehingga menyebabkan proses pembelajaran menjadi tidak maksimal.
Salah satu sekolah yang kekurangan guru yakni Sekolah Dasar (SD) 19 Sapansalak, Koto Parik Gadang Diateh. Sekolah ini terletak di pelosok negeri atau pedalaman. Satu-satunya SD yang terdapat di jorong itu, menampung sebanyak 147 murid. Akan tetapi, dengan jumlah sebesar itu, tenaga pendidik yang tersedia hanyalah enam orang guru PNS. Ini termasuk kepala sekolah.
Sisi lain, di SD 19 terdapat enam kelas (ruangan belajar/rumbel). Artinya, kekurangan wali kelas juga terjadi SD 19. Kepala sekolah SD 19 Sapansalak, Maidison mengungkapkan bahwa mereka kekurangan empat guru lagi. Rinciannya, guru agama, guru olahraga, guru kelas, dan guru BK. Serta, satu orang penjaga sekolah.
“Selama ini, karena kekurangan guru kadang guru kelas terpaksa merangkap. Dan memang ada juga tenaga sukarela, tapi tidak banyak,” ujar Maidison, saat ditemui Padang Ekspres di kantornya, dua hari lalu.
Selain kekurangan guru, sarana prasarana sekolah juga belum memadai. Pagar misalnya. Bila jam belajar berakhir atau hari libur, halaman SD 19 leluasa menjadi tempat ngetem binatang seperti kambing, anjing serta hewan yang biasanya dibiarkan berkeliaran. Pihak sekolah kewalahan mengatasi hal tersebut. Apalagi penjaga sekolah juga tidak ada.
Di bagian lain, pantauan Padang Ekspres salah satu kelas terlihat rusak. Kelas tersebut merupakan ruang belajar murid kelas II. Lantai dari arah depan sudah pecah dan membentuk lingkaran besar. Sedikitnya terdapat empat bolongan. Bolongan itu sengaja ditutup dengan batu koral, agar anak-anak tidak terpeleset ke dalamnya. Kuat dugaan kalau kerusakan itu disebabkan karena umur ekonomis bangunan yang memang sudah uzur.
Persoalan yang menganggu aktivitas belajar, tidak hanya sampai di situ. Mobiler belajar juga kurang. Misalnya bangku dan meja belajar. Jumlah bangku kayu yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah murid. Sehingga, sejumlah siswa terpaksa nebeng dengan temannya, demi mengikuti pelajaran.
”Bangku dan meja juga kurang. Meja yang paling banyak kekurangan. Terpaksalah murid di sini kalau sedang belajar empa orang ramai-ramai mengerumuni satu meja,” kata Kepsek mengisahkan.Sumber: Padang Ekspres
