^ Ke Atas
 
HEADLINE:
2017-03-29 11:23:52 - Cegah Upaya Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak <0> 2017-03-29 11:20:53 - Kronologis Penemuan Mayat di Batang Suliti Diduga Korban Hanyut 1 Bulan Yang Lalu <0> 2017-03-28 17:56:20 - KECAMATAN SUNGAI PAGU MEWAKILI KABUPATEN SOLOK SELATAN DALAM KEGIATAN KECAMATAN BERSIH DAN HIJAU TINGKAT SUMBAR <0> 2017-03-28 09:16:39 - Aplikasi Perizinan Solok Selatan Terkendala Pendelegasian Izin <0> 2017-03-28 09:15:52 - Polisi Solok Selatan Tangkap Lima Pencuri Ternak <0>
 

BERITA FOTO

Anda berada di: Depan > Post
KKI Warsi Berikan Pendampingan Pertanian Organik Di Simancuang
Diposting pada: Selasa, 21/03/2017 | Hits : 24 | Kategori: Daerah
 

Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi ikut mendukung dalam upaya kemandirian pangan di Solok Selatan (Solsel) yang berbasis kearifan lokal. Hal ini diwujudkan dengan melatih petani di daerah Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo untuk membudidayakan pertanian organik.

"Simancuang merupakan salah satu daerah pendampingan KKI Warsi," kata Direktur KKI Warsi, Riche Rahma Dewita.

Menurutnya, dewasa ini masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. "Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik," terangnya.

Ia menjelaskan, pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya tidak merusak lingkungan.

KKI Warsi dengan konsorsium PPO Santiago saat ini mendampingi masyarakat mengelola pertanian organik di dua daerah di Sumbar, Simancuang (Solok Selatan) dan Pancuang Taba (Pesisir Selatan). "Pendampingan itu diwadahi dalam Sekolah Lapang (SL) Pertanian organik. Masyarakat yang terlibat tanpa ada meminta uang ganti hari. Artinya, secara partisipatif masyarakat menjadikan SL sebagai instrumen berbagi pengalaman dan pengetahuan," lanjutnya.

Kegiatan yang menjadi titik fokus adalah Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) dan Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Masyarakat (PSDBM). "Berangkat dari hal ini, Warsi sebagai salah satu penggiat pengelolaan hutan berbasis masyarakat mendukung berbagai kearifan lokal yang dilakukan masyarakat. Terkait dengan ini, maka kita melakukan kegiatan Media Touring ke Simancuang dengan tema 'Pertanian Organik Masyarakat Sehat dan Petani Mandiri,"ungkapnya.

Adapun sasaran dan tujuan dalam kegiatan itu, imbuhnya adalah memberikan semangat dan motivasi kepada petani dalam pengelolan pertanian organik. Menguatkan dukungan publik melalui media massa pada skema-skema PHBM dan PSDBM dan memperkuat posisi masyarakat untuk mendapatkan dukungan pemerintah dalam PHBM dan PSDM.

Bupati Solsel, H. Muzni Zakaria juga mengapresiasi semangat masyarakat Simancuang yang begitu tinggi untuk melakukan perubahan. Dikatakannya, setelah berhasil meraih penghargaan Wahana Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup 2016 silam dalam pengelolaan hutan nagari, sekarang lahir upaya yang membanggakan dalam sektor pertanian organik.

"Simancuang telah menjelma jadi daerah yang sangat terkenal. Dulu ada hutan organik sekarang muncul tanaman organik, padi organik bahkan belutnyapun organik," tukas Bupati didampingi Wakil Bupati Abdul Rahman, Senin (20/3/2017).

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Solsel, Tri Handoyo didampingi Kepala Bidang Tanaman Pangan, Nurhamidah mengatakan pertanian organik telah dimulai di Solsel salah satunya pada 2016 yang dilakukan penanaman padi organik di nagari Pakan Rabaa Utara dan 2017 di Simancuang. "Kita telah satu kali panen padi organik di Pakan Rabaa Utara sedangkan untuk Simancuang belum panen. Untuk memperoleh sertifikat minimal harus panen selama tiga kali panen dan bisa dipasarkan," katanya.

Untuk percontohan padi organik di Solsel, imbuhnya telah ditanam seluas 40 hektare padi organik di dua titik yakni Pakan Rabaa Utara dan Simancuang. "Salah satu persyaratan menjadi pertanian organik adalah memilik sumber mata air yang belum terkontaminasi oleh penduduk jadi airnya murni dari mata air langsung dan belum melewati pemukiman penduduk," katanya.

Ia menyebutkan, pihaknya sangat mendukung upaya dan program yang digulirkan oleh KKI Warsi dalam membudidayakan pertanian organik di Solsel berbasis kearifan lokal. "Semoga bisa terwujud Solsel sebagai sentra pertanian organik dengan dukungan Warsi," tutupnya.


















GEMAMEDIANET.COM

 

Posting Lainnya:

« Kembali