BERTANDANG KE NEGERI SERIBU RUMAH GADANG

Ade Eka Sabtu, 18/02/2017 Umum 510 hits

Pemandangan danau. Deru Angin dingin yang melintasi pucuk pinus menghantam kulit. Danau terlihat beriak pagi itu.

Kami meneruskan perjalan melalui jalan yang berkelok-kelok mendaki,menurun,akhirnya sampai juga di Solok Selatan. Wilayah ini ditandai dengan munculnya satu persatu rumah gadang di pinggir jalan.

Solok Selatan dikenal dengan julukan Negeri Seribu Rumah Gadang karena banyak menyimpan rumah gadang di sekujur kampungnya. Memasuki Nagari Balun, ada satu rumah gadang yang megah yang mencolok dengan warna merah marun. Sejumlah besar ukiran dan cermin berkilap menghiasi rumah itu. Halamannya luas dan tepelihara. Sepintas mirip museum.
Nofrisn membawa kami singgah kesana. Ternyata bangunan tersebut merupakan Istana Rajo Solok Selatan pada masa lalu.Istana ini pernah dihuni Rajo Balun dengan gelar Daulat yang dipertuan Tuanku Bagindo Raja Adat Alam Surambi Sungai Pagu. Ia adalah raja di bawah kerajaan Pagaruyung, yang memerintah Ranah Minang pada abad ke-13.
Kami masuk kedalam rumah dan disambut oleh Puti Rosdewi Balun, 77 tahun, dengan ramah. Bu Ros-panggilan Puti-adalah keturunan ke 16 Rajo Balun. Ruangan dalam rumah itu panjang dan luas. Berbeda dengan umumnya rumah gadang, yang hanya mempunyai sembilan ruang. Istana ini mempunyai 24 ruang yang melambangkan 24 penghulu atau kepala adat dipimpin Rajo Balun.
Pada dinding, ada replika plakat dari pemerintah Belanda yag mengakui Kerajaan Balun. Plakat aslinya tersimpan pada peti di dalam kamar. Wilayah kekuasaan kerajaan ini terbentang hingga inderapura, yang sekarang menjadi Kabupaten Pesisir Selatan. "Tapi kini orang tidak mengakui kerajaan sudah dianggap milik mereka. Tidak ada lagi yang embagi hasil sawah,"ujar Bu Ros.
Karena itu, biaya untuk memelihara istana yang luas ini seluruhnya berasal dari dana pribadi para ahli waris. BU Ros bersama anak-anaknya membersihkan istana dan halamannya setiap hari karena tidak mempunyai pembantu rumah tangga. "Sudah banyak kayu dan ukiran yang lapuk tidak berganti,"kata dia.
Dari Istana Rajo Balun, kami melanjutkan perjalanan ke Nagari Pasir Talang, yang berjarak 15 kilometer dari Nagari Balun, untuk mengunjungi Istana Rajo Alam Surambi Sungai Pagu. Ia adalah raja lainnya yang dikirim dari Kerajaan Pagaruyuang. Gelar rajanya adalah Daulat yang dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah.
Rumah gadang ini tak kalah besar dan penuh ukiran indah. Di sana, kami berjumap dengan Puti Suci, 38 tahun, ahli waris kerajaan. Perempuan ini tinggal di rumah gadang bersama ibu dan ayahnya. Keturunan Raja, menurut dia, masih ada dan diganti jika meninggal melalui perayaan adat yang besar.
"Walaupun kekuasaan raja tidak lagi seperti dulu, dalam memutuskan perkara adat raja tetap berperan,"ujar Puti.
Menjelang Sore kami tiba di Nagari Seribu Rumah Gadang, tempat kami akan bermalam. Nagari ini dinamai demikian lantaran memiliki paling banyak rumah gadang, Ada sekitar 160 rumah gadang yang tegak berimpitan dengan rumahruamh modern.
Rumah gadang yang rata-rata berusia 100 tahun di sana masih menggunakan tonggak lama. adapun bagian yang lain dari rumah itu banyak yang sudah diganti karena lapuk. Ada pula rumah gadang yang berwarna hitam karena diolesi oli untuk menghalau rayap. Beberapa rumah gadan tampil mencolok dengan warna merah dan taburan ukiran di sana-sini.
Namun ada juga sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya itu sering dipakai sebagai temapt menyelenggarakan upacara adat. Pada 2011, rimah tesebut dijadikan lokasi syuting film Di Bawah Lindungan Ka'bah.
Kami bermalam di rumah gadang milik Yovi Indria. Selama enam Bulan terakhir, Ade Nursyiwan dan Nofrins Napilus berhasil mengajak warga setempat untuk menjadikan rumah gadang mulu mereka sebgai tempat penginapan turis sekaligus melihat aktivitas keseharian di rumah gadang yang siap menerima tamu yang ingin menginap.
Kami bermalam di ruang tamu yang luas. Di atasnya, sudah berjejer kasur-kasur baru beralas seprai putih, bantal, serta selimut. Menurut Yovi, rumah gadang miliknya sudah tiga kali menerima tamu, termasuk turis dari Malaysia.
Malam itu, ia menyediakan lapek ketan pisang untuk kami, beserta teh dan kopi yang bisa diseduh sendiri. Saya amat terkesan oleh keterbukaan warga Nagari Seribu Rumah Gadang dalam menerima wisatawan. Apalagi, sebelumnya insdustri wisatawan sebuah hal yang asing bagi mereka.
Malam itu, ada tamu lain di Nagari. Mereka adalah perantau Minang asal Bandung yang datang dengan menumpang dua bus besar. Rombongan itu bermalam di dau rumah gadang lainnya. Saya melihat mereka dijamu makan bajamba, banyak hidangan pesta adat di rumah gadang.
Esoknya, para tamu disuguhi atraksi tradisional di halaman rumah gadang, berupa pertunjukan tari hingga silat. Uniknya, para penarinya adalah ibu-ibu paruh baya. Bahkan salah seorang pesilat juga seorang ibu. Selebinhya pesilat laki-laki. Semalam tidur di rumah gadang berasa amat terkesan.
Tiga pekan kemudian, saya berkunjung ke Nagari Seribu Rumah Gadang di Koto Baru. Kali ini, saya ingin melihat wisata alam di sekitar kampung itu. Saya datang bersama aktivis lembaga swadaya masyarakat Warsi, yang berpusat di Jambi. Warsi hendak mengembangkan ekowisata di hutan nagari sebagai salah satu upaya menyelamatkan hulu Sungai Batang Hari. Sungai terpanjang di Sumatera tersebut bermuara di Muaro Sabak, Jambi, sementara salah satu hulunya ada di Solok Selatan.
Kami pergi ke Sungai Batang Bangko di pinggir hutan nagari. Kawasan ini sebelumnya merupakan hutan lindung, dan pada 2013 diserahkan pemerintah untuk dikelola warga dengan status hutan nagari.
Sunga Batang Bangko mengalir tenang ditengah hutan. Di tepi sungai ini, juga terdapat beberapa sumber air panas. Ada dua kolam berwarna hijau serta sumber air panas dalam cekungan kecil sebesar ember di tepi sungai. Airnya terasa hangat.
Hutan itu juga banyak menyimpan banyak gua. Gua terdekat, yakni disebelah tebing batu, punya sembilan ruang. Namun pintu masuknya kecil dan bagian dalamnya gelap. Menurut Devi, Kepala jorong atau kepala kampung yang menemani kami, sekitar 1 kilometer di dalam hutan ada gua yang sangat luas dan indah. Gua itu membenam 1 kilometer ke dalam perut bumi.
"Saya pernh masuk ke dalamnya, serasa di dunia lain. Ada air terjunnya, ada sungai, dan suara-suara di dalamnya terdengar seperti suara helikopter dan kereta api",katanya. Belum ada orang luar yang pernah masuk ke gua itu, "Kami sebetulnya sangat tertarik, tapi tentu saja tidak bisa masuk tanpa persiapan yang memadai".
Sore itu, kami berkunjung ke hutan di Pulakek, sekitar 5 kilometer dari Nagari Seribu Rumah Gadang. Di sana, ada air terjun bertingkat sembilan. Kami melintasi jalan terjal dengan mobil Hardtop tua tanpa pintu. Sayangnya, hari sudah menjelang malam. Hanya air terjun tingkat sembilan yang bisa dilihat.
Malamnya, kami bersantap di rumah makan yang dilengkapi dengan kolam renang air panas di Nagari Balun. Kolam renang sengaja dibangun pemilik rumah makan karena di depan rumahnya ada sumber air panas, seperti di pinggir sungai Batang bangko. Hingga tengah malam, kami masih berenang dan berendam dalam kolam air panas di tengah udara dingin Nagari Balun. Dalam dua kali kunjungan, saya mendapatkan sensasi yang berbeda dari kawasan paling selatan Ranah Minang ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Febrianti TEMPO

: tanpa label