Padang Aro, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, menyosialisasikan mitigasi bencana secara rutin kepada masyarakat dan pelajar untuk meminimalkan risiko akibat bencana alam yang sering terjadi di daerah itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan, Johny Hasan Basri di Padang Aro, Jumat, mengatakan sosialisasi mitigasi bencana ini diberikan karena daerah itu merupakan kawasan rawan bencana.

Solok Selatan merupakan daerah rawan berbagai bencana seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, gempa, erupsi Gunung Kerinci, kekeringan dan puting beliung sehingga mitigasi dan simulasi tanggap bencana perlu dilakukan secara rutin.

Tim dari BPBD selalu rutin turun ke masyarakat terutama di kawasan rawan bencana, termasuk para pelajar dengan turun ke sekolah untuk sosialisasi.

Dia menambahkan, upaya mengurangi risiko bencana yang berkaitan dengan mitigasi, BPBD bekerja sama dengan instansi lain yang memegang wewenang pembangunan fisik serta pemberi izin pendirian bangunan.

Sebagai contoh pihaknya mengingatkan masyarakat agar tidak membangun rumah pada lokasi rawan seperti kaki bukit yang kemiringannya melebihi 45 derajat, jika ada yang nekat maka IMB tidak dikeluarkan.

Sekretaris BPBD Solok Selatan Sumardianto menambahkan, bencana dengan risiko besar yang dikhawatirkan terjadi yakni ancaman erupsi Gunung Kerinci yang memiliki ketinggian 3.085 Mdpl.

Gunung kerinci sendiri sejak September 2007 statusnya waspada atau level dua yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geology (PVMBG) yang berkantor di Bandung dan sampai sekarang belum dicabut.

Terkait potensi gempa katanya, sebagian wilayah Solok Selatan dilalui patahan sesar semangka yang dikenal dengan segmen Suliti yang panjangnya sekitar 95 km, dimulai dari Lembah Gumanti melalui Ulu Suliti, Koto Parik Gadang Diateh, Muaralabuh, Liki hingga Kerinci dan bertemu dengan Segmen Siulak.

Sejauh ini segmen Suliti belum banyak berulah dan terakhir, pergerakan besar terjadi pada segmen ini pada 1943 silam.

Pada 2015 segmen Suliti juga sempat mengalami pergerakan dan tercatat pusat gempa di Pasir Talang dengan kekuatan sekitar 3 skala Richter.

Masyarakat di jalur segmen itu kata dia, sudah banyak menetap dan membangun perumahan.

"Apabila segmen Suliti mengalami pergerakan yang menimbulkan gempa, maka minimnya informasi akan memicu kekhawatiran yang tinggi, sehingga pengetahuan mitigasi dan tanggap bencana perlu diberikan pada masyarakat secara berkelanjutan," katanya.

Menurut dia, risiko bencana akan semakin besar bila masyarakat hanya sedikit mengetahui dan memahami pola tanggap bencana yang tepat.

Sekarang BPBD memiliki program sosialisasi yang dinamakan SMAB dan dalam bulan ini pihaknya akan turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan kepada siswa betapa pentingnya memahami potensi dan penanganan bencana. (*)